KEKUATAN TANGISAN KEPERGIANMU SEBELUM DIA

by zahrina syahaz
this my antologi,,

Hidup Bahagia bersama ibu dan ayah adalah dambaan setian insan di dunia,sejak terlahir di dunia ini, mata kecilku terbuka kudapati kedua senyuman mengembang dihadapanku, yang aku tau hanya menangis, mulai saat itu suatu pernyatan sudah berlaku kepadaku siap dan tidak siap, janji ku di rahim ibu adalah siap bahwa” aku bertemu untuk berpisah dan aku berpisah untuk bertemu” Hingga saat ini aku sudah berumur 21 tahun bersama kedua orang tuaku yang menyangi anak- anaknya, abangku dan kedua adikku yang juga lelaki, kedua orang tuaku hanya di karuniai anak perempuan satu yaitu aku. kami sekeluarga begitu manja, bahkan untuk keperluan pribadiku dan abang ku masih ibu yang mengurusi walau kami sudah jauh dengan ibu kuliah di luar daerah dan jauh dari kampung.

Langit berkelabung mendung, sore harinya aku masih sempat untuk bercerita dan canda ria bersama ibu lewat via handphone, setelah itu ternyata sesuatu telah terjadi sama ibu, ibu terjatuh dan di bawa kerumah sakit, Aku menangis, sesampai pagi abangku menuju rumah sakit. Ternyata ibu telah tiada karena serangan jantung. Tidak seorang pun yang memberi kabar jelas kepadaku, sms terakhir dari ayah ku “ pulanglah, mobil sudah ayah suruh menjemputmu” setengah perjalanan aku mulai sangat gelisah, apa yang aku rasakan tidak biasanya, kesekian kalinya aku menelvon baru ayah katakan” nak, ibu sudah meninggalkan kita, kami menunggu mu” mulut ku kaku, apakah ayah sedang bercanda, apa yang ayah katakan? Apa ayah sedang berbohong padaku? Lidah ku kelu.. seluruh ketegaran dalam jiwaku bagaikan tertarik, aku terkulai lemas dan tanpa terasa handphoneku jatuh, aku masih melaju melesat dalam mobil perjalanan pulang, aku menangis, aku masih berkhayal menganggap semua ini tidak benar, aku akan pulang dan sampai dan aku akan dapati senyuman ibu lagi menyambut ku pulang.. harapku tegas di hati diiringi aliran air mata. Namun kenyatan berbeda dari keinginan hati ku, saat aku memandang rumah, aku melihat tenda di depan rumah, aku melihat berkurumun orang di depan dan didalam rumahku. Mana ibu? Yang biasanya menyambutku” harapku tak pernah putus” aku masuk mendapati sekujur tubuh yang tertidur rapi tertutup kain putih kelabu, aku terjatuh, aku sudah tidak tahan dengan lemasnya lutut untuk berdiri, aku merangkak mendekati ibu, aku ingin menangis berteriak sepuas nya, namun semua hanya rasa di hatiku mencurahkan lewat tangisan memeluk ibu, ibu..aku menatapnya penuh rasa kehilangan.. sebagian aku telah hilang.. “ibu,, jawab aku… kenapa engkau meninggalkanku lebih cepat,aku masih sangat membutuhkanmu ibu, aku menyangimu ibu, “abang dan adik-nya memeluk kakaknya, ayahnya menangis di balik pintu kerumunan orang.

10376303_883705951644764_8014210903422049651_n

Saat aku sudah menepati janjiku, kekuatan ku di balik janjiku terdahulu.Ibu tidak sempat melihat abang yang beberapa bulan lagi memakai baju toga menuai keberhasilannya.setelah itu aku pergi lagi ke kota yang jauh melanjutkan kuliahku yang hampir siap, tinggallah Ayah dan adik-adikku yang masih kecil di rumah yang hanya di temani bayang-bayang ibu, Segala urusan dan hal kini aku dan abangku mengurusi masing- masing, tidak ingin membebani ayah yang sudah cukup mengurusi kedua adiknya, Lima belas hari setelah kepergian ibu, aku mendengar berita ayahku terjatuh, ayah di larikan ke rumah sakit, Ya Allah kuatkan Hamba dengan cobaanMu ..aku pun pulang, sesampai di rumah sakit, aku melihat ayah sudah di rawat di ICU, ayah tidak bisa berbicara. Dan badannya tidak bisa di gerakkan.. aku menangis kaku di hadapan melihatnya, ayahnya hanya memandang kearah lain mengeluarkan air mata mengalir di pipi” tidak sanggup aku pun keluar ku lihat adikku yang paling kecil firman menangis di sudut pintu masuk, “ jangan menangis adik fir” bagaimana cerita ayah?“ “ayah terjatuh di tempat yang sama dengan ibu kak, dia terjatuh dan tak seorangpun yang melihatnya, dia menggoyangkan rak piring hingga suara terdengar besar saat fit di luar kak” Baru fir dan abang dahlan berlari melihat ayah, dan menelpon abang” sambil membendung air matanya.

Aku tertekun, semua bagai misteri buatku.. aku baru saja kehilangan ibuku, kenapa dengah ayah.. apakah karena rasanya yang masih sangat mencintai ibu sehingga ia shock, dia tidak bisa berbicara, penyakit strocknya membuat sebelah badannya tidak berfungsi, aku mencoba memberi Handphone untuk ayah tuliskan apa yang dia ingin sampaikan tetapi juga tidak bisa, dia seperti lupa dengan semua, ayah hanya bisa membuka dan menutup hp sambil terus mengeluarkan air matanya, aku menyerahkan kertas tetapi dia seperti lupa akan angka dan huruf tetapi dia tau. Terkadang ia menunjukkan tanggal di kelender, Dengan makna maksud membayar pajak Honda, sewa rumah, bayar listrik dan sebagainya, aku dan abang yang mengurusi semuanya, saat aku menyuapinya makan, dia menagis melihatku, pelupuk mataku pun tak bisa membendung air mata. Hatinya lebih sensitiv terhadapku dari abang ku.

Aku terlarut dalam doaku malam itu, memohon di beri kekuatan.. aku melihat adikku yang masih kecil membutuhkan ku, abangku yang sibuk mengurusi semua keperluan ayah sehingga lupa studynya, aku bergegas. Mengatakan kepada ayah yang sudah beberapa bulan di rawan di Rumah Sakit,“ istigfar dan zikir terus ya ayah”, Aku tau dalam diam dan arahannya menyuruhku dan abang untuk secepatnya menyelesaikan kuliah. Hingga sekarang ayahku terlihat kurus, aku mulai mandiri dan tegas menerima kenyaatan. Aku yakin Allah akan memberi hikmah hadiah di balik kesabaran ini.

Bineuh Blang,

malam ceria 21 Aug 2015..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s