KISAH INDAH DI PESANTREN

This was my first anthology 😀 😥 huaaa nangis2 hapyy because first time pula ikut even jebol.. kwkwkw

thanks to my uncle Boy Abdaz on motivation .. hihi tq a lot..

the story began…

10557179_917488321611033_7689346174469736001_n

Setiap langkah mempunyai makna, setiap bibir yang terucap mempunyai arti, hidup memang takkan abadi selamanya, namun tempat keberadaan tetap ku buat menjadi indah dan berarti untukku, untuk semua yang masuk dalam ceritaku dan mereka yang disana dengan penuh keramaian, mengenal mereka adalah bagian isi terindah dalam hidupku. Berada dalam dalam wahana menuntut ilmu agama serta mengajarkan ilmu kepada mereka-mereka yang masih kecil serta haus akan ilmu, bersama kawan-kawan seperjuangan memaknai setiap detik yang terlewati dalam menimba ilmu di pesantren, terjalin berbagai kisah dan kenangan, saksi-saksi bisu di sekeliling pesantren mengetahui kebahagian yang kami rasakan, Tempat kami membagi kasih dan sayang untuk merasakan sesama, kami tahu, di setiap tempat ada cerita tentang kearifan serta keunikan dari seseorang maupun ramai. Ada alam yang senantiasa berinteraksi dengan manusia, Memberi kita kehidupan, Membuat kita hidup berdamping dengannya, Namun tak bisa bertahan tanpanya. Kita berasal dari alam, dan akan kembali pada alam.

Aku masih terduduk di atas balai bersama anak didikku, memperhatikan hingga mengerutkan kening dan mengembangkan sebuah senyuman di akhir ngaji kepada mereka, mengajari mereka mengaji adalah tugas wajibku siap shalat magrieb hingga azan isya datang menjemput menandakan berakhirnya mengaji Alquran untuk malam itu, mempunyai anak murid seperti mereka adalah suatu kebanggaan, mereka mempunyai kemampuan dan kepintaran yang berbeda bidang, diantaranya seusai ujian yang lalu dari ke lima muridku empat diantaranya selalu meraih juara, ada yang mendapat juara mengaji, hafal Alquran serta menjelaskan kitab, membuat ku tersenyum mengembang terhadap prestasi mereka, mengenal kemampuan mereka sudah menjadi bagian dalam fikiranku, bahkan aku sudah mampu menghafal watak dan kebiasaan mereka, diantaranya Azizah penyuka pakaian warna merah adalah seorang murid yang pandai dalam berbicara dan pintar dalam meniru bacaan mengaji orang lain jika orang lain lebih baik mengaji dari padanya, kedua anak santriku bernama putri ( di paggil “puteh” red ‘bahasa aceh’) karena dia berkulit sangat putih, dia takkalah seru, pandai mengaji dan pandai juga memuji diri, ketiga muridku yang paling kalem dan malu bernama liyana mengajinya masih dalam tahap banyak spasi terkadang menangis bila sudah tidak bisa, selanjutnya ada nadia si kalem pinter, dalam diam bakatnya terpendam, sering membuat kejutan dan sering memperhatikan saya dan terakhir.. muridku bernama humaira, murid sopan dan pintar serta terlucu dengan perhatiannya membuat tawa dalam duka namun mempunyai hati yang lembut, mereka semua masih berumur antara 12 sampai 13 tahun.

Empat tahun sudah lamanya aku bersama mereka, mengenal mereka rasanya cukup bahagia, walau perjalanan ku pernah menuju pesantren mengayuh sepeda mati-matian, mendorong sepeda yang sedang bocor di tengah jalan hingga sampai ke rumah di malam harinya, membawa tas berat berisikan Alquran dan lainnya. Setiap sore sebelum azan aku selalu menjemput kawan ku yang bernama zia berdekatan dengan rumah ku, menggunakan sepeda mini yang beraga tempat menaruh tas di depan dan temanku duduk di belakang, aku mengayuh sepeda tersebut sekuat tenagaku melintas jalan Raya melewati mesjid Baiturahman yang terletak di sebuah kotaku yang sederhana namun penuh makna menuju tempat pengajianku. Suatu malam, selesai pengajian aku tertawa-tawa bersama kawan menikmati keseruan dan kelucuan belajar dan mengajar ngaji malam ini di pesantrenku, Dalam kegelapan di bawah pohon belimbing berdekatan dengan tempat berwudhuk berhadapan dengan toko kecil bersebelahan pesantren..

“beli mie yuk lapar ni” kata zia kawanku

“Sama aku ada uang Rp.500, Tapi rana malu kasih ni” kataku

“Ahh gak papa lagian lapar, kita pergi saja yuk “ ajak hasanah, kawan dekatku

“Tapi aku gak mau kasih duit, nanti malu dilihat uangnya dikit” logam lagi! Tegas ku

“Ya udah .. kamu rana ambil mie saja, nanti zia yang kasih duitnya sama ibu penjualnya, itu saja repot” jelas Hasanah menghindar diri

“Eh aku gak mau! Malu hmm..” bantah zia

“Ya sudah kita pulang aja” ujar hasanah marah..

Ternyata saat hasanah pulang abi sudah berdiri mendengar percakapan kami sedari tadi di bawah pohon kelapa, hasanah pun yang pulang terus melihat abi sontak terkejut!

“Jam mengaji sudah di mulai dari tadi, waktu jajannya sudah tidak ada lagi! “Ucap abi..

Dari kejauhan aku masih memanggil hasanah,,

“Sanaaahh!!! Jagan marah donk,, sini dulu.. kita sudah jadi kok beli mie nya,, jangan pergi masuk dulu nanti ketauan abi”, tegas ku dengan nada sedikit besar..

“Sanah! Ahhh sanah.. mana lagi.. tunggu ya zia, biar kulihat

Dan.. praakkk “ abii… “!!berhadapan denganku..

“Mana zia..!? sana ngaji.. sudah dari tadi mengaji masih saja keluar jajan,,” tegas Abi

“Iya bii” kami berlari..

“Hahahah…. “serontak tawaan kami sampil pulang mengaji mendorong sepeda sambil berjalan kaki bertiga, di persimpangan hasanah pun berpisah dengan kami menuju pulang, kamipun belok kiri arah jalan pulang dan mulai lagi mengayuh sepeda memboncengi zia yang badannya termasuk kecil, sesampai jalan raya aku masih tidak bisa menahan tawa dengan cerita yang baru saja kami alami, gerakan tawaan kami berdua membuat sepeda bergoyang hingga jatuh di jalan Raya yang sudah sedikit terasa sunyi, aku jatuh terseret ke tengah jalan, sandal ku sebelah terbang melambung jauh keatas, bahuku tertidur di atas aspal, tidak mempedulikannya, melihat zia yang terseret dibawah sepeda berdampingan denganku di tengah jalan, ia masih lama tertidur, aku berusaha cepat bangun,

”bangun zia..”cepat.. aku merangkak dalam sakitnya kakiku terus mengangkat sepeda dan membantu zia bangun, nanti ada mobil.. langkahku gontai banting berjalan secepatnya menjauhi area jalan raya..

“sandalku mana”! teriakku.. yang ternyata sudah berada di sebelah jalan raya dari ku, aku mengambilnya, sontak zia mengundang tawa melihatku dan sandalnya pun yang sudah patah menjadi dua bagian,,

“hahaha..” hahaha..” tawaan itu tidak pernah putus.. dalam ketakutan, hanya sedikit luka dan memar, ku dayuh sepeda lagi dan melanjutkannya hingga sampai rumah. Semua takkan membuat ku lelah dan jera, semua adalah kisah manis.

Sore yang mendinginkan memulai belajar kembali seperti biasa seusai dua minggu ujian di pesantren berlalu, rasanya ujian yang sudah terlalui adalah hari terindah buatku dan kawan-kawan beserta anak didikku khususnya. Melewati hari-hari dengan mengeluarkan energi dan suara dalam menggapai hasil terbaik “menuju juara dunia di pesantren ku,”

Setidaknya itu pesanku terhadap anak-anak didikku selalu, sebagai kakak yang selalu menasehati adik didiknya juga harus menjadi lebih baik, di pondok pesantren Darun Najah yang terletak di sebuah desa yang kental keagamannya, aku mempunyai orang yang yang selalu menyayangi dan membimbing kami di setiap malam yaitu abi dan bunda pimpinan pesantren beserta staf ustaz-ustaz disana yang ikut mengajari kami, ujian yang sudah terlaksanakan membuahkan hasil yang baik terhadap usaha ku dan kawan-kawan.. disaat malam acara dakwah isra’ mi’raj yang di hadiri undangan para wali dan orang kampung sekitar juga di umumkan hasil juara ujian dari pesantren kami, alhasil saat uztaz suhaimi pembaca nilai menyebutkan kalimat terakhir

“ dan kepada anak dari keluarga syahbuddin dan sulthaniyah yang bernama zahrana meraih juara pertama dengan total nilai 9,89,”kepada ayah anak murid dipersilahkan memberi hadiahnya..

Sontakan keras “ yaaaa…. Kak ranaaaa!!!” terdengar muridku memanggil

“ ciieeeehhh… makan mie kita besok hehe.. “ coleteh temanku

Aku pun berdiri di dekat panggung dengan hati senang, melihat ayah mewakili memberi hadiah untukku, selepas itu aku pun mendapat hadiah langsung dari abi sebagai penghargaan. Malam itu seperti mimpi buatku, tepukan tangan dan teriakan nama ku terdengar, aku tersenyum memandang mereka. Siap acara aku menyalami bunda wali kelasku dan aku berlari masuk kedalam rumah abi menjumpai bunda pinpinan pesantren, aku menyalami serta memeluknya, beliau sangat menyangiku dan bunda selalu memberi perhatian kepadaku di hari-hari biasa dalam mengaji.

“ dapat dua kado,, enak ya” canda bunda

“Ahh bunda .. malu..rana tidak tau ini bunda entah kenapa udah dapat juara,,, heran juga.. hehe “ ujar rana

“hehehe selamat ya anak ku rana”! ucap bunda sambil tersenyuum mendengar kataku

Malam itu aku bersyukur kepada Allah atas doa Ibu dan Ayah serta Abi dan Bunda yang kusayangi serta atas dukungan dan doa kawan-kawan dan anak murid-muridku tercinta yang takkalah dengan ku peraih juara. Rasanya cukup bahagia mempunyai bunda yang selalu ada menyayangi, lima tahun sudah ku berada di sana, mereka seperti sudah menjadi bagian besar dalam hidupku, pesantren dan rumah abi adalah bagian dari keseharian waktuku ketika malam, siap shalat magrib, aku sering duduk bersama bunda dan kawan-kawan bila tidak dalam mengaji, kalau pun ada tamu, menyiapkan air dan masakan adalah urusanku malam itu.

Berbagai acara selalu dapat memeriahkan suasana pesantren kami, mulai dari perlombaan hingga acara maulid, lomba menghias balai yang paling bagus, aku dan kawan-kawan mengecat balai dan sebagainya, hingga malam terakhir libur untuk menyambut puasa adalah malam teistimewa dan penuh keseruan, anak-anak laki-laki yang masih kecil dari berbagai balainya membuat acara makan-makan tersendiri sesuai keinginan dan kemampuan seta di bimbing oleh ustaz mereka masing-masing, aku melihat di ujung sana sedang membakar ikan, sudut yang lain lagi membakar ayam, sudut balai anak perempuan membawa nasi dan memakan sama-sama, dan balai kami terpaling seru membuat mie goreng di dalam rumah bunda.

“Huhu.. kalau tidak enak, berarti badriah ya bunda yang salah masukin bumbu hehe… “ kataku

“Bukan bunda,! Kalau rasanya asin, zahrana yan bunda taruh garam” sahutnya lagi..

“Hahaha , yang gak enak, yang asin kasih buat saya saja ya semua, kalian tidak makan pun tidak apa-apa“ Seru mutia yang berbadan gemuk..

“ Huuuuuu.. enak aja” sorakan kawan-kawan pun menjadi riuh….

Kami makan dan menikmati kebersaman dengan kawan-kawan dan mereka semua yang ada di pesantren adalah hal terindah yang tidak bisa di ulang walau hanya sedetik.kami bersyukur kepada Allah yeng telah menganugerahkan rasa indah kepada kami, sehingga kami bisa menikmati kebagiaan, kebersamaan, Sesama menjaga, memberi makna, mencintai dan menjalin keikhlasan dalam menuntut ilmu menggapai kebahagian dunia akhirat, di sini tempatku tercinta Pesantren Darun Najah.

Note * balai yaitu tempat pengajian dan *puteh berarti putih.

By zahrina, Pagar Air…. 20 Aug 2015.. 😀

zahrinarina59@yahoo.co.id

085370471974

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s