Saat diam adalah kataku

by zahrinasyahaz
Assalamualakm,,

this my antologi! tingalkan jejakmu!! dont forget 😀

Hentakan kaki mnyeret debu dari posisi satu hinnga ke posisi yang lain, semakin kuat hentakan kaki ini semakin jauh abu terseret di bawah sepatu kakinya berpijak, Nawwal masih melangkah dan terus mencoba melangkah walau debu yang terseret itu hinnga masuk mengenai kakinya yang terlihat tersembunyi di balik sepatu, padahal penuh dengan debu akibat sobekan yang terlalu lama berpijak.

994477_278506772357860_3318902767996247577_n

Langit terasa dingin ternyata awan hitam telah menutupi matahari, ia percepat langkah, dan hujan turun nawwalpun berlari meneduhkan diri di bawah pohon yang sedikitnya daun bisa membuatnya tidak terkena hujan, jam menunjukkan 6.29 Pm mendekati azan magrib, rasa khawatir menyelubungi hati nawwal, dia melihat tidak ada tanda orang yang lewat, berharap ayah cepat datang menjemputnya. Air matanya pun menetes di pipi, lunturan doa keselamatan terus meluncur dari bibirnya, dia mendengar suara kereta yang berhenti di depannya, ya ternyata ayah, ayah menjemputnya.

Keesokan paginya dengan mengenakan pakaian sehari harinya baju gamis hitam yang menjulur kebawah hingga tumit serta jelbab biru yang melabuhkan badannya, Nawwal berdiri di depan cermin mencoba sedikit tersenyum, berharap sedikit manis terlihat, penyemangatnya berjalan hari ini.

Nawwal tinggal bersama keluarga di suatu pedesaan berdekatan dengan Gunung selawah yang rata-rata jalannya hanya di kelilingi dengan pohon dan kebun. Setiap hari nawwal berjalan menuntut ilmu berjalan kaki keluar dari rumah, kemudian menaiki angkutan umum. Hingga sampai terminal pusat kota Banda Aceh, dia menaiki mobil lagi yang menuju pusat Kota Pelajar Mahasiswa di Darussalam, sesampai gerbang Kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Nawwalpun mulai menghitung langkahnya lagi, langkah yang terkadang lambat dan terkadang ia percepat dan gontai larian kecil seiring waktu yang mengejarnya, ia menghabiskan waktu perjalananya hingga satu jam.

Suatu sore..

Ayah” biarkan saja dia pergi”

Ibu“ bapak, untuk apa? Lebih baik dia bekerja bantu-bantu ibu di rumah menjahit disini” untuk apa kuliah! Lagian bapak, Orang yang kuliah itu kan untuk dapat uang juga, dia bisa bekerja sekarang juga bisa dapat uang cepat di sini, lagian dia anak perempuan pak! Tegas ibunya..

Ayah “ dia kuliah bukan untuk mendapatkan uang, tapi dia bisa mendapatkan ilmu ! tegas ayahnya

Ibu “ terserah bapak,ibu tidak ada uang untuk di keluarkan kuliahnya”

Hati nya terasa berdesir sedih, dia tidak ingin menyusahkan siapa saja di hidupnya, walau ia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, matanya berbinar- binar dan hidung putihnya terlihat sedikit kemerahan saat dia sedang menjahit dompet khas daerah nya di bawah rumah panggungnya, setengah hari dia kerja menjahit, hasil dari kerjanya ia selalu menyisipkan uang membeli kain-kain baju kurung untuk dijahitkan, setidaknya uang yang harus di keluarkan tidak banyak, baginya pakaian muslimah adalah kewajiban.

Kesehariannya terus berjalan Hingga nawwal sekarang sudah semester enam, Nawwal berharap ia bisa membuktikan keberhasilannya sebagai wanita muslimah dalam menuntut ilmu nanti khususnya kepada orang tua dan semuanya.

zahrina syahaz

Pagar Air 20 Aug 2015

rabu ceria… 😀 hoho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s